Rabu, 16 Mei 2012

Pencemaran Kimia Air Laut – Pencemaran Merkuri di Minamata


I.          Pendahuluan
1.1    Latar Belakang
Air merupakan kandungan terbesar didalam tubuh manusia. Maka dari itu, air mutlak dipenuhi untuk kelangsungan hidup manusia. Jika mutu air yang masuk ke dalam tubuh rendah, akan mempengaruhi kesehatan tubuh. Bahkan dapat menimbulkan penyakit.
Air yang tercemar dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti diare, penyakit kulit, kanker, minamata dan lain lain.
Kasus ini disebut tragedi Minamata atau disebut juga Minamata Disaster (1950). Logam berat akibat industrialisasi Jepang mencemari teluk tersebut, termasuk di dalamnya tercemar pula oleh Methyl Mercury. Tidak kurang, penduduk dari dua wilayah di pesisir Minamata, yaitu propinsi Kumamoto dan Kagoshima menjadi korban merkuri.
Penduduk yang mengalaminya memiliki penyakit aneh, tangan dan kaki mati rasa, kekuatan otot melemah, gangguan pada mata, gagap, gangguan pendengaran, lumpuh hingga pada level tertentu menyebabkan kematian. Dari beberapa video dokumen terlihat banyak korban berperilaku aneh, seperti gagap dan kejang kejang begitu pula seekor kucing yang jalan terseok-seok saat berjalan. Limbah merkuri yang di hasilkan oleh Chisso Corp tersebut telah menkontaminasi air laut sehingga membuat hasil tangkapan ikan menjadi terkontaminasi merkuri sehingga meracuni penduduk yang mengkonsumsinya. 50 tahun sudah kejadian tersebut berlalu, namun sampai saat ini kejadian tersebut masih belum terpecahkan ujar walikota kota Minamoto. Jumlah korban belum bisa di pastikan karena akan terus bertambah karena bersifat turun-menurun, namun sekitar 1.573 – 2.265 orang meninggal yang kesemuanya menderita keracunan merkuri, lebih lanjut masih banyak penduduk yang melaporkan kemungkinan terkena wabah ini dan jumlahnya tidak sedikit, yaitu 21.021 orang. Dan mereka mengaku memiliki gejala gejala penyakit yang terlihat pada lengan, kaki dan sulit berkomunikasi. Pihak Chisso Corp sendiri selalu menolak untuk bertanggung jawab meskipun telah di tetapkan sebagai tersangka dan terus menyebarkan merkuri ke laut sepanjang 1956 – 1968, tentu saja perbuatan tersebut patut di kutuk karena telah menyengsarakan penduduk lokal hingga turun temurun dari generasi ke generasi.
Efek merkuri pada kesehatan terutama berkaitan dengan sistem syaraf, yang sangat sensitif pada semua bentuk merkuri. Gejala yang timbul antara lain:
·      Gangguan saraf sensoris: Paraesthesia, kepekaan menurun dan sulit menggerakkan jari tangan dan kaki, penglihatan menyempit, daya pendengaran menurun, serta rasa nyeri pada lengan dan paha.
·      Gangguan saraf motorik: lemah, sulit berdiri, mudah jatuh, ataksia, tremor, gerakan lambat, dan sulit berbicara.
·      Gangguan lain: gangguan mental, sakit kepala. Tremor pada otot merupakan gejala awal dari toksisitas merkuri tersebut.
Dari fakta-fakta tersebut diatas, kami ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada air laut tersebut ditinjau dari parameter dan kaidah-kaidah kimia lingkungan.

1.2   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
(1) Apa saja sumber pencemaran air laut yang menyebabkan terjadinya tragedi Minamata?
(2) Bagaimana peredaran zat pencemar air laut yang menyebabkan terjadinya tragedi Minamata?
(3) Bagaimana tabiat (sifat kimia dan fisika) zat pencemar air laut yang menyebabkan terjadinya tragedi Minamata?
(4) Apa dampak yang diakibatkan oleh tragedi Minamata?
(5) Bagaimana cara mengatasi permasalahan pencemaran air laut akibat tragedi Minamata?

1.3    Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, makalah ini bertujuan :
(1)   Untuk mengetahui sumber pencemaran air laut yang menyebabkan terjadinya tragedi Minamata.
(2)   Untuk mengetahui peredaran zat pencemar air laut yang menyebabkan terjadinya tragedi Minamata.
(3)   Untuk mengetahui tabiat (sifat kimia dan fisika) zat pencemar air laut yang menyebabkan terjadinya tragedi Minamata.
(4)   Untuk mengetahui dampak yang diakibatkan oleh tragedi Minamata.
(5)   Untuk mengetahui cara mengatasi permasalahan pencemaran air laut akibat tragedi Minamata.

  II.     Pembahasan
2.1    Sumber Pencemaran Air Laut yang Menyebabkan Terjadinya Tragedi Minamata
Minamata adalah sebuah desa kecil yang menghadap ke laut Shiranui, bagian selatan Jepang sebagian besar penduduknya hidup sebagai nelayan, dan merupakan pengkonsumsi ikan cukup tinggi, yaitu 286-410gram/hari.
Tahun 1908 berdiri PT Chisso dengan Motto “dahulukan Keuntungan” perkembangannya pada tahun 1932 Industri ini berkembang dan memproduksi berbagai jenis produk dari pewarna kuku sampai peledak, dengan dukungan militer industri ini merajai industri kimia, dan dengan leluasa membuang limbahnya ke teluk Minamata diperkirakan 200-600 ton Hg dibuang selama tahun 1932-1968, selain merkuri limbah PT Chisso juga berupa mangan. Thalium, dan Selenium.
Bencana mulai nampak pada tahun 1949 ketika hasil tangkapan mulai menurun drastis ditandai dengan punahnya jenis karang yang menjadi habitat ikan yang menjadi andalan nelayan Minamata.
Pada tahun 1953 beberapa ekor kucing yang memakan ikan dari teluk Minamata mengalami kejang, menari-nari, dan mengeluarkan air liur beberapa saat kemudian kucing ini mati.
Tahun 1956 adanya laporan kasus gadis berusia 5 tahun yang menderita gejala kerusakan otak, gangguan bicara, dan hilangnya keseimbangan sehingga tidak dapat berjalan. Menyusul kemudian adalah adik dan empat orang tetangganya, penyakit ini kemudian oleh Dr. Hosokawa disebut sebagai Minamata disease.
Pada tahun 1958 terdapat bukti bahwa penyakit Minamata disebabkan oleh keracunan Methyl-Hg, hal ini ditunjukkan dengan kucing yang mengalami kejang dan disusul kematian setelah diberi makan Methyl-Hg. Pada tahun 1960 bukti menyebutkan bahwa PT Chisso memiliki andil besar dalam tragedi Minamata, karena ditemukan Methyl-Hg dari ekstrak kerang dari teluk Minamata, sedimen habitat kerang tersebut mengandung 10-100 ppm Methyl-Hg, sedang di dasar kanal pembuangan pabrik Chisso mencapai 2000 ppm. Pada tahun 1968 pemerintah secara resmi mengakui bahwa pencemaran dari pabrik Chisso sebagai sumber penyakit Minamata.

2.2    Peredaran Zat Pencemar Air Laut yang Menyebabkan Terjadinya Tragedi Minamata
Peristiwa ini dimulai di Minamata, sebuah desa kecil yang menghadap ke laut Shiranui, provinsi Kumamoto, bagian selatan Jepang, dimana sebagian besar penduduknya hidup sebagai nelayan, dan merupakan pengkonsumsi ikan yang dukup tinggi, yaitu 286-460 gram per hari.
Masalah dimulai ketika tahun 1908 berdiri PT Chisso dengan slogan “dahulukan keuntungan”. Pada tahun 1932 industri ini berkembang dan memproduksi berbagai jenis produk dari pewarna kuku sampai peledak. Dengan dukungan militer, industri ini merajai industri kimia, dan dengan leluasa membuang limbahnya ke teluk Minamata.
Selang beberapa lama, diketahui bahwa limbah industry ini berupa Merkuri (Hydragyricum : Hg) yang digunakan sebagai katalis dalam proses produksi asetaldehida (acetaldehyde). Asetaldehida (CH3COOH) digunakan sebagai bahan mentah untuk pembuatan produk seperti plastik, obat-obatan, cuka, fiber dan produk lain. Walaupun anorganik merkuri yang digunakan sebagai katalisator, namun sistemnya merubah bentuk anorganik merkuri tersebut menjadi organik (metil) merkuri. Dengan kata lain merkuri anorganik dapat ter-metilasi menjadi merkuri organik di sedimen perairan. Pada biota laut merkuri anorganik mengalami perubahan menjadi merkuri organik (metil merkuri). Selain itu kondisi asam dan kadar ozon pada perairan mendorong aktivitas bakteri mengubah merkuri menjadi metil merkuri.

Limbah yang dibuang ke teluk Minamata juga tidak terhitung sedikit, diperkirakan 200-600 ton Hg dibuang selama 1932-1968, selain merkuri, terdapat juga mangan, thalium, dan selenium dalam limbah yang dibuang. Tanda-tanda keracunan mulai terlihat pada tahun 1949 ketika hasil tangkapan mulai menurun drastis, yang ditandai dengan punahnya jenis karang yang menjadi habitat ikan yang menjadi andalan nelayan. Tanda-tanda keracunan juga terlihat pada beberapa hewan yang memakan ikan hasil tangkapan nelayan. Beberapa ekor kucing yang memakan ikan tersebut mengalami kejang, menari-nari, dan mengeluarkan air liur, yang beberapa saat kemudian kucing tersebut mati.
Metil merkuri dapat memasuki tubuh manusia melalui tiga cara, yaitu melalui kulit, inhalasi (pernafasan) maupun lewat makanan. Pada kasus ini Merkuri ditransfer masuk dalam rantai makanan melalui bioakumulasi di lingkungan laut yang tercemar. Ikan atau hewan air lainnya yang tercemar merkuri melalui makanan atau insangnya. Metil merkuri dan substansi racun lainnya yang telah terakumulasi pada ikan dan moluska. Ikan-ikan berukuran besar seperti Tuna dan Swordfish yang hidup di laut tercemar biasanya mengandung akumulasi metil merkuri lebih banyak. Hewan air tersebut masuk dalam rantai makanan dan dimakan oleh predator di atasnya, dan akhirnya sampai pada puncak pada rantai makanan, yaitu manusia. Ikan-ikan yang telah terkontaminasi ini menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia ketika rantai makanan itu menyambung ke manusia. Merkuri akan meracuni manusia saat kadarnya melebihi kadar normal dalam darah (sekitar 0,04 ppm). Namun, sekali berada dalam tubuh, metil merkuri sangat lambat tercuci dan akan terakumulasi dalam tubuh. Oleh sebab itu, memakan ikan yang tercemar metil merkuri dengan dosis di bawah ambang pun, jika dilakukan dalam jangka waktu lama, akan meningkatkan jumlah merkuri di dalam tubuh.
Merkuri yang terlarut dalam pembuluh darah setelah ikan dicerna oleh sistem pencernaan manusia akan sampai ke ginjal, dimana senyawa anorganik merkuri akan berpengaruh pada ginjal, sedangkan saat sampai pada susunan saraf, giliran metil merkuri dan etil merkuri yang akan mempengaruhi susunan saraf. Senyawa merkuri dapat dicerna dan terlarut dalam darah karena senyawa bersifat lipofilik, sehingga terlarut dalam lemak yang terkandung dalam ikan, dan dapat masuk dalam peredaran darah sekaligus dapat meracuni darah dan otak.

2.3    Sifat Kimia dan Fisika Zat Pencemar Air Laut yang Menyebabkan Terjadinya Tragedi Minamata
Zat sumber pencemar pada Tragedi Minamata adalah Raksa (Hg)
1.    Sumber mineral yang mengandung raksa:
a.    Sinabar (HgS)
b.    Metasinabarit
c.    Kalomel
d.   Terlinguait
e.    Eglestonit
f.     Montroidit
2.    Sumber yang menghasilkan Raksa dengan cara diekstraksi:
a.    Bijih air raksa yang terpenting hanyalah Sinabar (HgS), Sinabar dipanggang dan menghasilkan oksidanya yang pada gilirannya terdekomposisi kira-kira pada suhu 500 oC maka raksa akan menguap.
HgS (s) + O2 (g) à Hg (g) + SO2 (g)
b.    Proses lain untuk mengurangi emisi SO2(g) ialah dengan memanggang HgS dengan Fe atau CaO
HgS (s) + Fe (s) à FeS (s) + Hg (g)
4 HgS (s) + 4 CaO (s) à 3 CaS (s) + CaSO4 (s) + 4 Hg (g)
Pemanggangan HgS tidak menghasilkan HgO karena HgO tidak stabil pada suhu tinggi sehingga mengurai menjadi Hg (g) dan O2 (g).
c.    Raksa yang masih terkotori oleh pengotor, dimurnikan dengan mereaksikannya dengan larutan HNO3, larutan HNO3 akan mengoksidasi hampir semua pengotor. Hasilnya yang tidak larut akan mengambang ke permukaan cairan dan dapat diambil. Pemurnian terakhir adalah melalui penyulingan. Raksa mudah diperoleh karena kemurnian adalah yang paling tinggi dari kebanyakan logam (99,9998% Hg atau lebih).
3.    Sifat Fisika Raksa:
a.    Berkilau seperti warna keperakan
b.    Mempunyai titik leleh yang rendah 234.32 K (-38.83 °C, -37.89 °F)
c.    Berujud cair pada suhu kamar (25 oC) dengan titik beku paling rendah sekitar -39 oC.
d.   Masih berujud cair pada suhu 396oC.
e.    Hg punya densitas yang lebih besar dari beberapa logam yang lain. densitas Hg sekitar 13.55 g/mL.
4.    Sifat Kimia Raksa:
a.    Memiliki daya hantar listrik yang tinggi
b.    Bersifat diagmanetik (tidak dapat ditarik oleh magnet)
c.    Memberikan uap monoatom dan mempunyai tekanan uap (1,3 x 10-3 mm) pada suhu 20 oC.
d.   Larut dalam cairan polar maupun tidak polar.
e.    Merupakan logam yang paling mudah menguap jika dibandingkan dengan logam-logam yang lain.Karena penguapan dan toksisitas yang tinggi, air raksa harus disimpan dalam kemasan tertutup dan ditangani dalam ruang yang cukup pertukaran udaranya.
f.     Sangat sedikit senyawa raksa yang larut dalam air, dan kebanyakan tak terhidrasi.
g.    Raksa mempunyai kecenderungan yang kecil untuk bergabung dengan oksigen, oksida raksa (HgO) tidak mantap/tahan terhadap suhu.
h.    Kebanyakan senyawa raksa bersifat kovalen. Kemantapan ikatan Hg – C mengakibatkan banyaknya jumlah senyawa raksa organik. Halida logam, kecuali HgF2, hanya sedikit terionisasi dalam larutan yang mengandung H2O.
i.      Raksa membentuk ion diatomik dengan ikatan kovalen logam-logam, Hg22+.
j.      Senyawa merkuri anorganik terjadi ketika merkuri dikombinasikan dengan elemen lain seperti klorin (Cl ), sulfur atau oksigen. Senyawa-senyawa ini biasa disebut garam-garam merkuri.
k.    Senyawa merkuri organik terjadi ketika merkuri bertemu dengan karbon atau organomerkuri. Banyak jenis organomerkuri, tetapi yang paling populer adalah metilmerkuri (monometilmercuri) CH3—Hg—COOH.

2.4    Dampak yang Diakibatkan oleh Tragedi Minamata
Kasus minamata disebabkan oleh metil merkuri yang dihasilkan dalam proses produksi asetaldehida dimana produksinya menggunakan raksa (mercury) sebagai katalis. Metil raksa mengkontaminasi dan terakumulasi pada ikan-ikan dan makhluk hidup lain yang ada di laut tersebut, sehingga siapapun yang mengkonsumsi hasil laut itu akan mengalami keracunan methyl mercury. Kasus ini merupakan kasus pertama yang terjadi melalui rantai makanan dari polusi lingkungan.
Berdasarkan Prof. Tokumi yang telah meneliti kasus ini, tanda-tanda keracunan mercuri pada kasus minamata ini ada berbagai macam. Dari seluruh korban yang diperiksa 100% korban mengalami gangguan sensorik dan penyempitan jarak pandang, 93,5% diantaranya mengalami gangguan koordinasi, 88,2 % mengalami dysarthia, 85,3 % mengalami gangguan pendengaran dan 75,8% mengalami gejala tremor. Selain itu, diantara 85,4% dari penderita juga mengalami ganguan dalam berjalan. Tak hanya itu, gangguan syaraf perioral juga ditemukan dalam kasus ini. Kasus Minamata ini juga menimbulkan gangguan syaraf yang unik dan belum pernah ditemukan sebelumnya. Ganguan syaraf ini mirip dengan gangguan pada syaraf peripheral. Berdasarkan penelitian yang dilakukan setelahnya, terdapat kemungkinan besar bahwa gangguan syaraf tersebut tergolong dalam gangguan syaraf pusat.
Pada tahun 1962 ditemukan bukti bahwa metal merkuri juga mengkontaminasi mengkontaminasi janin pada Ibu hamil, karena logam merkuri dapat melintasi plasenta dan memengaruhi janin. Ini dibuktikan dari penelitian, bahwa bayi yang terkena logam dalam kandungan ibunya, akan dipengaruhi secara berlebihan daripada ibunya. Faktor ini mengakibatkan beberapa warga yang berasal dari Minamata enggan mengakui dirinya berasal dari Minamata, karena takut tidak akan mendapatkan jodoh. Sekitar 9% dari bayi yang baru lahir tersebut memiliki kandungan raksa dalam tubuhnya yang sangat tinggi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, semua anak tersebut mengalami keterbelakangan mental, gangguan koordinasi, gangguan pertumbuhan, chorea-ethetose dan dysarthia.
Untuk faktor usia, anak-anak lebih rentan diserang keracunan logam merkuri daripada orang desawa. Hal ini disebabkan kepekaan dan tingkat penyerapan dalam saluran pencernaan anak-anak yang lebih besar daripada orang dewasa. Selain itu, pada anak-anak yang mempunyai berat badan sangat kecil, lebih mudah diserang oleh racun logam. Faktor berat badan pada anak-anak ternyata juga berpengaruh pada orang dewasa. Faktor-faktor diet yang menyebabkan defisiensi protein, vitamin C, dan vitamin D dapat meningkatkan resiko keracunan logam.
Secara patologis, kandungan raksa yang terlalu tinggi akan merusak bagian kortial cerebrum dan cerebellum. Dengan kata lain pada bagian pusat visual (calcarine areas), pusat motorik (precentral gyrus), pusat sensorik (postcentral gyrus) dan pusat audiotorik (transverse temporal gyrus).
Senyawa methyl mercury juga akan bergerak melalui plasenta seperti halnya melalui pembuluh-pembuluh darah. Sehingga dapat dipastikan bahwa senyawa ini akan merusak otak fetal melalui plasenta dari ibu yang terkontaminasi methyl mercury. Akibatnya terjadi kerusakan pada cerebral, yang termasuk gangguan intelektual, gangguan pertumbuhan, kesulitan dalam berbicara, kesulitan dalam bergerak dll.kondisi ini disebut dengan Fetal Minamata Disease, yang diakibatkan kerusakan pada saat kehamilan.
Sebelumnya telah disebutkan bahwa senyawa merkuri dapat larut dalam darah karena mempunyai sifat lipofilik, sehingga dapat menuju ke berbagai sistem organ dalam tubuh, dan menyebabkan gangguan pada sistem organ tersebut. Antara lain:
·      Sistem Syaraf
      Merkuri dapat dengan mudah dapat memasuki susunan syaraf dan mengakibatkan keracunan pada bentuk metil merkuri (CH3Hg+), yang biasanya masuk lewat pencernaan, yang mana telah mencerna ikan, kerang, udang, maupun air dari perairan yang telah terkontaminasi. Metil merkuri sendiri terbentuk dari reaksi antara merkuri dengan metana yang terdapat di alam. Metil merkuri bersifat racun, dalam bentuk metal merkuri, sebagian besar berakumulasi di otak. Karena senyawa ini mudah diserap, dalam waktu singkat dapat menyebabkan berbagai gangguan. Mulai dari rusaknya keseimbangan tubuh, tidak bisa berkonsentrasi, tuli, dan berbagai gangguan lain. Ini dibuktikan dengan adanya laporan pada tahun 1956, bahwa gadis berusia 5 tahun menderita gejala kerusakan otak, gangguan bicara, dan hilangnya keseimbangan sehingga tidak bisa berjalan.
·      Pada Ginjal
       Resiko ginjal terserang keracunan merkuri cukup kecil, karena hanya merkuri dalam bentuk logam saja yang dapat menyerang ginjal. Itupun merupakan sisa dari dari ekskresi merkuri yang mengendap pada ginjal. Tapi jika melihat fakta bahwa penduduk Minamata merupakan pengkonsumsi ikan yang sangat tinggi, dan telah tercemar oleh merkuri, maka keracunan pun tidak dapat dihindari. Ginjal yang diserang oleh merkuri akan mengalami kerusakan, dan mengganggu sistem ekskresi dalam tubuh. Seseorang masih beruntung jika hanya satu ginjal yang diserang, karena setiap manusia dalam keadaan normal mempunyai dua buah ginjal dalam tubuhnya. Tetapi jika terserang keduanya, maka orang tersebut dinyatakan gagal ginjal, dan harus melakukan cuci darah secara rutin, atau menerima donor ginjal dari orang lain untuk mengganti ginjalnya yang rusak.
·      Pada Pernapasan
      Dalam kasus Minamata, resiko untuk keracunan pada sistem pernapasan cukup kecil, karena penyebab utama keracunan di Minamata adalah penduduk yang terlalu banyak terpapar merkuri yang terdapat pada ikan-ikan yang mereka makan setiap harinya. Sedangkan cara untuk merkuri memasuki sistem pernapasan adalah melalui uapnya, yang dapat berasal dari uap air raksa yang terhirup dalam waktu lama dan terus menerus, sehingga merusak paru-paru. Kerusakan paru-paru akan berujung pada kematian.
Akibat lain yang ditimbulkan pada keracunan merkuri selain kerusakan organ adalah karsinogenisitas. Karsinogenisitas merupakan pembengkakan pada jaringan tubuh (tumor).
Tumor diakibatkan oleh peningkatan kadar merkuri dalam jaringan tubuh. Sehingga tidak mengherankan jika banyak dari warga Minamata yang keracunan merkuri mengalami cacat fisik sepanjang hidupnya.
Jika melihat dari banyak hal yang terjadi pada kasus Minamata, dari pembuangan limbah yang belum diolah dengan benar, yang langsung dibuang ke perairan dimana perairan tersebut menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar. Sampai pada dampak yang ditimbulkan oleh keracunan tersebut, seperti gangguan pada sistem organ yang sampai berujung pada kematian, bisa diambil beberapa pelajaran, antara lain pentingnya pengolahan limbah hasil industri, apalagi jika mengandung logam-logam berat, seperti merkuri (Hg), mangan (Mn), selenium (Se), dan thalium (Tl). Yang dapat mencemari perairan, sehingga menyebabkan kerusakan ekosistem air dan keracunan bagi penduduk sekitar, yang berupa cacat fisik permanen, sampai kematian.

2.5    Cara Mengatasi Permasalahan Pencemaran Air Laut Akibat Tragedi Minamata
Berbagai usaha restorasi dan rehabilitasi lingkungan teluk Minamata dan laut Shiranui pada umumnya untuk mencegah terus menyebarnya metil merkuri tersebut ke rantai makanan dan manusia, sejak tahun 1970 untuk merehabilitasi lingkungan. Usaha-usaha tersebut mencakup 5 kategori, yaitu : (1) Kegiatan penelitian, (2) Peraturan-peraturan dan administrasi (3), Pengobatan bagi korban, (4) Pemantauan merkuri dan bahan berbahaya lainnya serta (5) Usaha perbaikan lingkungan.
Selain larangan bagi masyarakat untuk menangkap ikan di teluk ini, program pembersihan sedimen dengan teknik remediasi dilakukan dari tahun1974-1990. Limbah sedimen yang mengandung merkuri di teluk Minamata diperkirakan sebanyak 70 - 150 ton. Sedimen yang ada di dasar teluk Minamata tersebut di keruk dan ditaruh pada lokasi reklamasi menggunakan pompa yang didesain khusus untuk mencegah kekeruhan di saat penggerukan. Kemudian sedimen yang terkontaminasi tersebut ditimbun lagi/ditutupi dengan menggunakan tanah yang tidak terkontaminasi secara hati-hati (diisolasi). Teknik remediasi ini dilakukan aktif antara tahun 1983-1987 dan berakhir di tahun 1990, teknik ini teruji efektif namun mahal dan memakan waktu serta dapat saja bocor dan mencemari lingkungan lagi. Lewat program ini, merkuri yang terkontaminasi di sedimen sebanyak 25 ppm di tahun 1977 menurun menjadi 4,6 ppm (1990). Daerah yang direklamasi di teluk Minamata seluas 58 hektar dan menghabiskan anggaran 48 Milyar Yen. Chisso menanggung lebih dari 30.5 Milyar yen dan sisanya ditanggung oleh pemerintah. Berbagai alternatif teknik selain remidiasi dan imobilisasi dikaji untuk digunakan seperti dengan treatment tanah atau air yang terpolusi baik secara fisik atau kimia. Teknik ini lebih murah namun tidak berlaku umum, hanya memindahkan dari polusi air ke polusi udara, dan tetap berpotensi menimbulkan pencemaran lain. Teknik lainnya seperti fitoremediasi, yakni dengan menggunakan tumbuhan penyerap metilmerkuri relatif murah dan polutan yang telah terakumulasi dapat dikumpulkan dan digunakan bila perlu. Namun proses ini relatif lambat dan belum cukup teruji serta kemungkinan terjadi gangguan pada ekosistem.
Usaha lain yang dilakukan adalah measang jaring sebagai batas mengelilingi mulut teluk untuk menangkap ikan yang terkontaminasi (imobilisasi). Teknik ini cukup efektif serta lebih murah, namun gangguan efek ekologis pada ekosistem tempat batas dipasang dapat saja terjadi. Pemerintah telah mengizinkan kembali penangkapan ikan di teluk Minamata di tahun 1997 dan menyatakan bahwa tingkat merkuri di Laut Shiranui telah mencapai batas aman untuk dimakan. Bersama dengan persetujuan nelayan setempat, jaring yang membatasi teluk Minamata diangkat dan teluk Minamata dibuka kembali untuk umum. untuk pertama kalinya dalam 24 tahun, penangkapan ikan dan promosi mengenai amannya ikan dari teluk minamata dan Laut Shiranui pada umumnya dilakukan. Namun masyarakat sudah tidak mau lagi mengkonsumsi ikan yang terdapat di teluk Minamata.
Pencemaran air oleh merkuri dalam skala yang lebih kecil pun tidak bisa diatasi hanya dengan cara penyaringan, koagulasi kopulasi, pengendapan, atau pemberian tawas. Hal ini karena merkuri di air berbentuk ion. Cara terbaik untuk menghilangkan merkuri dalam air ini adalah dengan pertukaran ion. Yaitu mempergunakan suatu resin yang mampu mengikat ion merkuri hingga menjadi jenuh, kemudian diregenerasi kembali dengan penambahan suatu asam, sehingga Mercury bisa dinetralisir. Namun karena biaya ionisasi ini sangat mahal, maka biaya termurah dan terbaik adalah dengan mencegah merkuri tidak masuk perairan. Cara lain, yaitu penyulingan. Tapi setali tiga uang, biaya yang akan dikeluarkan untuk penyulingan pun sangat mahal.
Penelitian tentang pengobatan keracunan merkuri sangat terbatas. Akhir- akhir ini dapat digunakan chelators N-acetyl-D,L-penicillamine (NAP), British Anti-Lewisite (BAL), 2,3-dimercapto-1-propanesulfonic acid (DMPS), and dimercaptosuccinic acid (DMSA). Pada penelitian dengan sampel kecil dilakukan pada pekerja yang terkontaminasi air raksa diberikan DMSA dan NAP. Obat ini bekerja dengan cara memperkecil partikel air raksa,sehingga pengeluaran ke ginjal bisa di tingkatkan.
              Selain itu juga, suatu laporan yang dibuat oleh Enviromental Protection Agency (EPA) memuat beberpa rekomedasi untuk mencegah terjadinya pencemaran merkuri di lingkungan. Rekomendasi tersebut adalah sebagai berikut:
·      Pestisida alkil merkuri tidak boleh digunakan lagi.
·      Penggunaan pestisida yang menggunakan komponen merkuri lainnya dibatasi untuk daerah-daerah tertentu.
·      Semua industri yang menggunkan merkuri harus membuang limbah industri dengan terlebih dahulu mengurangi jumlah merkurinya sampai batas normal.
Pelaksanaan rekomendasi tersebut tidak seluruhnya dapat memecahkan masalah pencemaran merkuri di lingkungan. Pencemaran tetap terjadinya pada lumpur di dasar sungai atau danau dan menghasilkan CH3Hg+ yang dilepaskan ke badan air sekililingnya.
Kasus Minamata ini menjadi pelajaran yang sangat berarti bagi masyarakat Jepang, khususnya Pemerintah Jepang. Pasca bencana Minamata, secara bersama-sama masyarakat Minamata, kalangan industri, pemerintah kota dan pemerintah Jepang melakukan perbaikan lingkungan dengan upaya terpadu. Secara konsisten, seluruh industri diharuskan mengolah limbah. Peraturan disusun dan dilaksanakan secara konsisten. Pada saat bersamaan pemulihan lingkungan teluk Minamata dilakukan, sehingga kualitas air di teluk Minamata kembali seperti sebelum pencemaran. Limbah rumah tangga dari seluruh bangunan diolah secara sungguh-sungguh, sehingga tidak ada lagi limbah industri dan limbah rumah tangga yang mencemari perairan kota Minamata. Sejarah kemudian mencatat, bahwa Minamata yang semula tercemar logam berat, kini menjadi kota kualitas lingungannya baik, kota yang nyaman dan aman untuk ditinggali.




III.     Penutup
3.1   Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa:
(1)Tragedi Minamata disebabkan oleh limbah buangan perusahaan pupuk, Chisso Corp yang mengandung logam berat, Raksa (Hg) atau merkuri dan mencemari perairan disekitar perusahaan.
(2)Merkuri ditransfer masuk dalam rantai makanan melalui bioakumulasi di lingkungan laut yang tercemar.
(3)Tabiat dari zat sumber pencemar pada Tragedi Minamata (yang diketahui adalah Raksa)  meliputi sumber mineralnya, yang paling banyak adalah terdapat pada Sinabar (HgS), sumber ekstraksinya, dapat diekstraksi dari Sinabar, memanggang HgS dengan Fe atau CaO agar emisi SO2 yang dihasilkan dari pengekstrasian Sinabar dapat dikurangi. Sifat fisikanya, raksa memiliki titik leleh rendah dan densitas yang lebih besar dari logam lainnya, sedangkan sifat kimianya, raksa dapat membentuk senyawa anorganik dan organik yang sama-sama beracun.
(4)pencemaran ini memberi dampak yang sangat buruk bagi kesehatan manusia dan makhluk hidup di Teluk Minamata, terutama merkuri menyerang sistem syaraf dan otak.
(5)Cara mengatasi pencemaran merkuri di Teluk Minamata dan Laut Shiranui membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang lama. pengobatan kepada korban pun terus dilakukan dalam jangka waktu yang lama.

3.2    Saran
(1)   Bagi Pemerintah, sebaiknya pemerintah menindak tegas perusahaan-perusahaan, atau lebih tepatnya pabrik-pabrik yang beroperasi tidak boleh membuang limbahnya sebelum diproses atau diolah dan tidak boleh juga membuang limbahnya secara sembarangan serta membuat kebijakan yang tentang pengelolaan limbah sebelum dibuang ke lingkungan.
(2)   Bagi Pengusaha, seharusnya mempunyai kesadaran diri untuk tidak membuang limbah yang belum diolah dan tidak membuang limbahnya secara sembarangan, dan diharapkan tidak mendirikan pabrik ditengah pemukiman padat penduduk.
(3)   Bagi Masyarakat, sebaiknya memiliki kesadaran tentang pencemaran lingkungan disekitarnya dan melakukan perbaikan lingkungan dengan upaya yang terpadu.
                       
Daftar Pustaka
Juwilda. 2009. Limbah Merkuri. Online. http://jjuian.blogspot.com. diakses tanggal 20 April 2012.
Hamdani, S. 2012. Sifat Fisika Kimia Merkuri. Online. http://www.catatankimia.com. Diakses pada tanggal 19 April 2012
Sari, Ilma Ranita. 2008. Tragedi Minamata. Online. http://ilmatuhyaien. blogdetik.com/2010/10/30/paper-ilmu-lingkungan/. diakses tanggal 20 April 2012.
Subanri. 2008. Kajian Beban Pencemaran Merkuri (Hg) Terhadap Air Sungai Menyuke Dan Gangguan Kesehatan Pada Penambang Sebagai Akibat Penambangan Emas Tanpa Izin (Peti) Di Kecamatan Menyuke Kabupaten Landak Kalimantan Barat. Tesis tidak diterbitkan. Semarang:Universitas Diponegoro
Tridharma. 12 Mei 2008. Merkuri. Online. http://himpunanmahasiswapendidikankimia.com. Diakses pada tanggal 19 April 2012
Tim Wikipedia. 15 April 2012. Raksa. Online. http://wikipedia.org. diakses pada tanggal 19 April 2012
Yumiarti, dkk. 2008. Studi Penyerapan Raksa Anorganik Oleh Ikan Lele (Clarias Batrachus) Dalam Air Menggunakan Analisis Aktivasi Neutron. Laporan penelitian. Yogyakarta: Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, BATAN
-----. 2012. Paparan Mercury Melalui Konsumsi Ikan (Kasus Teluk Minamata). Online. Http://fun-smile-blog.blogspot.com/2012/01/paparan-merkuri-melalui-konsumsi-ikan.html. diakses tanggal 20 April 2012.
-----. 2012. Mercury Poisoning. Online. http://en.wikipedia.org/wiki/ Mercury_poisoning. diakses tanggal 20 April 2012.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda